Tuesday, April 28, 2009

Karena anak adalah permata

Jika anak dibesarkan dengan celaan…

Maka ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan…

Maka ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan…

Maka ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi…

Maka ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan…

Maka ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan kesederhanaan…

Maka ia belajar mensyukuri diri.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan…

Maka ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan…

Maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Karena anak adalah permata

Tuesday, February 03, 2009

Sebuah Pensil

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?" Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai." "Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

(by Paulo Coelho)

Friday, January 23, 2009

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

  Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

  Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit.Aku pikir dia workaholic.

 Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

    Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

   Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

  Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

   Meisha tidak secantik aku. Dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

   Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

   Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

    Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, "Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

   Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit dari pada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

 Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

   Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

   Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatiku pun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

   Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"

    Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

   Dear Meisha,

   Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

  Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari  untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

   Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. 

   Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu.

  Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau  mengerti, you are the only one in my heart.

   yours, 

  Mario

 

   Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

   Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. 

  Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

   Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan  tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju.

  Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku  malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

   Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

   Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

    Setahun kemudian...

   Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman  itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

   "Mario, suamiku.... 

   Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku... Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....

   Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

    Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"

   Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

   Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia  bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

  Istrimu,

  Rima"

    Di surat yang lain,

    ".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha......"

   Di surat yang kesekian,

   ".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

    Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu,  aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini?

  Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.......

   Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya........"

   Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... Dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

    Di surat terakhir, pagi ini...

   "..............Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9.

  Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia.

  Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

   Tahukah engkau suamiku...   Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?........."

  Jelita menatap Meisha, dan bercerita, 

  "Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku.  Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang jalan.

 Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan denga kecepatan tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante.....  Aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak......"

  Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

  Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

 

   ''Dear Meisha,

   Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya.

  Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ? 

   Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku.... ''

   Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk di samping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

 

   Jakarta, 7 Januari 2009  (dedicated to my friend....may you rest in peace...)

 

Monday, January 12, 2009

A Tale of a Smile

Morning ALL…,

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari sebuah milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orangmemilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama"Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnyakepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.

Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.
Pagi itu udaranya sangat dingin dankering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiaporang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri duaorang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima'kehadirannya' di tempat itu. Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya.

Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba-tiba saja sudah sampai di depan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."

Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran di sini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan. Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka ..

Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan sayadi atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil sayaberucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya." Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata, "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin seka li saya merengkuh kedua lelakii tu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Seka rang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku. Yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku!"
Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada di sini. Jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. 

Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada magnet yang menghubungkan batin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya ke arah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikiroleh saya.Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat hangat dan indah sekali!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" Dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya." Tersenyumlah dengan 'hatimu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
Dengan caraNya sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliahmanapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara mencintai sesama dengan memanfaatkan sedikit harta benda yang kita miliki, dan bukannya mencintai harta benda yang bukan milik kita, dengan memanfaatkan sesama!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan hatimu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak. Orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!

Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka , tetapi Dia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus berikhtiar untuk bisa mendapatkannya. Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari pengalaman mereka, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

Tuesday, January 06, 2009

Dari Mana Datangnya Cinta

Semua ini pasti akan musnah
Tetapi tidak cintaku padamu
- Pangeran Cinta, Dewa 19 -

Sebuah tendangan salto, dan Ronaldinho mencetak gol indah. Pemain klub
Barcelona ini menjadi sedikit dari pesepakbola yang bisa mencetak gol dengan
cara itu. Ia mengatakan bahwa itulah impian masa kecilnya yang menjadi
kenyataan.
Seperti umumnya pemain asal Brazil, karir Ronaldinho dimulai dari futsal dan
sepakbola pantai, masuk klub lokal, talentanya lalu dilirik pencari bakat hingga
merumput di Eropa. Nilai transfernya saat dibeli Barcelona (2003) mencapai 18
juta poundsterling, kini ia digaji sekitar Rp 1,97 milyar per minggu, dan menjadi
Pemain Terbaik Dunia versi FIFA tahun 2004 dan 2005.
Tiada yang lebih menyenangkan daripada apa yang dilakukan Ronaldinho.
Bekerja dan bermain dijadikannya satu. Profesinya adalah apa yang disukainya
sejak kecil, dan itu membawanya kepada kesuksesan. Ia adalah perwujudan
sempurna kata-kata bijak: Do what you love. Kerjakanlah apa yang anda sukai,
maka hasilnya akan luar biasa.
Tidak semua orang seberuntung Ronaldinho. Di tengah sulitnya mencari
pekerjaan, terkadang kita harus menerima pekerjaan apa pun yang tersedia.
Pekerjaan yang dilakukan belum tentu sesuatu yang disukai atau menjadi citacita
semula. Love what you do, kata orang bijak lagi. Jika tiada kesempatan
melakukan pekerjaan yang disukai, maka cintailah pekerjaan kita saat ini. Kerja
adalah rasa cinta yang terlihat kata Kahlil Gibran, maka kerjakanlah sesuatu
dengan penuh gairah cinta kata Bunda Theresa.
Rasa cinta yang terwujud akan memberi ruh dan jiwa pada pekerjaan yang kita
lakukan. Hasil kerja menjadi hidup. Ruh dan jiwa yang melekat itulah yang
membuat hasil kerja menjadi berbeda jika dikerjakan oleh orang lain.
Namun cinta tidak selamanya membara. Ada saat kita kehilangan gairah kerja.
Ada sesuatu yang diam-diam berusaha mengikis rasa cinta kita terhadap
pekerjaan atau profesi yang kita jalani. Bagaimana memelihara api cinta agar
terus menyala?
Di saat cinta memudar, telusuri kembali apa alasan kita melakukan pekerjaan ini,
atau yang akan membuat kita tetap bertahan melakukannya. Kita bekerja
sesungguhnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dalam prosesnya, hasil kerja
kita bermanfaat memenuhi kebutuhan orang lain.
Sebagian orang bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup. Ada juga yang
bekerja agar mempunyai banyak teman. Sebagian orang bekerja untuk
menunjukan status sosialnya, sebagian yang lain untuk menunjukan kualitas dan
kemampuan pribadinya. Tanpa bekerja, bukankah hidup terasa tiada arti?
Bagi spiritual worker, bekerja adalah perwujudan cintanya kepada Tuhan. Jika
cinta Tuhan adalah cinta tanpa syarat (unconditional love), maka spiritual worker
bekerja dengan cinta tanpa syarat itu, memberi tanpa mengharap kembali: bagai
sang surya menyinari dunia. Bila tidak bekerja, bukankah kehilangan
kesempatan melayani Tuhan dengan cara melayani sesama?
Ataukah kita berharap orang lain yang akan memelihara cinta kita?
Jim Collins (2004) dalam Good to Great mengatakan bahwa meluangkan waktu
dan mencurahkan energi untuk mencoba "memotivasi" orang adalah usaha yang
sia-sia. Pertanyaan yang sejati bukanlah "Bagaimana memotivasi orang?". Bila
anda mempunyai orang yang tepat, mereka akan memotivasi diri sendiri.
Kita berharap, Jim Collins dari penelitiannya terhadap ratusan perusahaan besar
kelas dunia, akan menyimpulkan bahwa memotivasi orang itu penting, atau
bahwa perusahaan-perusahaan hebat adalah perusahaan yang terus menerus
meluangkan waktu untuk memelihara motivasi karyawannya. Kita mengharapkan
itu, namun ia menyatakan sebaliknya. Sungguh teganya Jim Collins.
Di era postmodernisme sekarang ini, di saat pemikiran besar dan mapan tengah
mengalami dekonstruksi dan menjadi serba tentatif, termasuk dalam manajemen
SDM, kita harus pandai-pandai mencari cara untuk memelihara motivasi-cinta
kita sendiri pada pekerjaan yang ditekuni, dan tidak berharap itu dilakukan oleh
orang lain.
"Kita harus menemukan bagaimana caranya agar selalu jatuh cinta pada
pekerjaan kita", ujar Andhara Early, Playmate Indonesia. Nadya Hutagalung,
model dan mantan VJ MTV, menambahkan "Jika kita telah memperhitungkan
segala sesuatunya, maka kita akan merasa numb, kebal rasa". Maka mereka
menjalani profesi dengan penuh ketekunan dan kekebalan terhadap resiko dan
masalah.
Begitulah Ronaldinho, selalu tersenyum saat bertanding. Saat kalah pun ia
tersenyum. Ia mempunyai alasan untuk menggerutu, namun ia memilih untuk
tersenyum. Barangkali tidak ada orang di dunia ini yang tersenyum sebanyak
Ronaldinho. Rasa cinta telah membuat Ronaldinho menikmati setiap serpihan
peristiwa yang dialaminya saat bekerja.
Para artis, model, dan olahragawan telah mengajarkan sesuatu, nilai-nilai
bekerja, persistent & commitment, rasa cinta pada pekerjaan. Cinta akan tetap
utuh jika kita dapat menyetel pikiran agar selalu adaptable dengan lingkungan,
sesulit apapun situasinya.
Kehidupan tidak selalu berjalan linier seperti yang kita inginkan. Semua hal bisa
saja musnah: situasi tiba-tiba menjadi tak menentu, order berkurang, budget
minimalis, tugas bertambah, rencana tidak berjalan mulus, tetapi tidak cinta
kita pada pekerjaan, pada profesi yang kita tekuni. Tidak kita biarkan
sedikitpun sesuatu di luar diri kita menepis rasa cinta kita itu.
Bagaimana dengan anda, sudahkah menemukan cinta anda hari ini?

(Penulis: Akhmad Ludzain, Personalia-SDM, dimuat di majalah Human
Capital Edisi Februari 2007)

Kekuatan Wanita Yang Mungkin Tak Di Miliki Laki-laki

Seorang anak laki-laki bertanya pada ibunya: “Mengapa engkau menangis?”
“Karena aku seorang wanita,” jawab sang ibu.
“Aku tidak mengerti,” kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak akan pernah mengerti.”
Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?”
“Semua wanita menangis tanpa alasan,” hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, dan dia tetap ingin tahu mengapa wanita menangis. Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?”
Tuhan berkata: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untukmenjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untukmenopang dunia, namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.”
“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang sering kali datang dari anak-anaknya.”
“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-oranglain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”
“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”
“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya danmelengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.”
“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannyadan ketetapan hatinya untuk berada di sisi suaminya tanpa ragu.”
“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.”
“Kau tahu: Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yangdikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisirrambutnya.”
“Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya…, karena itulah pintu hatinya, tempat di mana cinta itu ada.”

Chatting dengan Tuhan

TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini Tuhan. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU : Oke, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyakketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
AKU : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harusmelangkah...
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.
AKU : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU : Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?".
AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu.Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

Wednesday, December 10, 2008

Jalan Menuju Ciwidey



Meski letaknya di puncak gunung pada ketinggian 2.300 m dpl., Kawah Putih dan Situ Patengan (1800 m dpl) mudah dicapai pengunjung. Bahkan kedua obyek wisata hanya berjarak 200-an meter dari tempat parkir. Tak ada jalan curam yang berbahaya. Karena jalan turun ke kawah putih sudah dibuat undak-undakan dari batu kali.
Kawasan wisata CIwidey terletak sekitar 35 km dari pusat kota Bandung dan bisa ditempuh selama 1,5 jam menggunakan mobil. Dari Bandung kita bisa melalui tol Pasteur, keluar di gerbang tol Kopo, selanjutnya belok kanan arah Soreang yang merupakan gerbang menuju Ciwidey. Bagi yang datang dari Jakarta, dari tol Jakarta – Cikampek menyambung ke tol Cipularang, keluar di pintu tol Kopo, lalu belok Kanan ke arah Soreang, lurus hingga Ciwidey. Sedang Ciwidey – Kawah Putih yang berjarak 11 km, bisa dicapai dengan angkot.
Sesampai di komplek wisata Ciwidey, kita bisa ke Kawah Putih dulu atau langsung ke Situ Patengan yang berjarak 1 km. Setelah membayar tiket Rp 5.000 per mobil dan Rp 10.000 per orang di gerbang masuk Kawah Putih, pengendara motor dan mobil bisa langsung melanjutkan perjalanan sejauh 5 km yang bisa ditempuh selama 15 menit. Tapi yang datang dengan bus harus ganti angkot antar jemput yang dimodifikasi mirip mobil patroli polisi beratap deklit dengan ongkos Rp 6.000 pp, atau mencarternya Rp 90.000 untuk 15 orang.
Jalan ke Kawah Putih, yang ketinggiannya hampir 500 meter, penuh dengan kelokan dan di kiri-kanan tumbuh lebat aneka jenis tumbuhan hutan tropis seperti eucalyptus. Jalannya sendiri cukup baik dan beraspal, tetapi hanya cukup dilalui satu kendaraan. Dari tempat parkir, pengunjung berjalan kaki menuruni Kawah yang berjarak sekitar 200 meter melewati undak-undakan batu.
Sementara Situ Patenggang bisa dicapai dengan angkot dari terminal Ciwidey dengan tarif Rp. 7.000,- per orang, termasuk tiket masuk Untuk rombongan bus besar, ditarik retribusi Rp 250.000.
Hal yang perlu diperhatikan, kita sebaiknya tidak menggunakan sandal/sepatu berhak tinggi atau bersol halus. Sebab tanah di Kawah Putih berkerikil dan memmbuat kita bisa terpeleset jika tak hati-hati. Jangan lupa, siapkan baju hangat, payung dan pakaian ganti. Sebab selain udara cukup dingin, cuaca bisa berubah seketika dari cerah, mendung, tiba-tiba hujan.
Tapi jika tak tahan dengan udara dingin tak usah khawatir. Di sana berjajar puluhan kios yang menjajakan minuman hangat khas Sunda; bandrek, aneka makanan, baju hangat, topi masker, hingga cinderamata khas Ciwidey, mulai dari tas, gantungan kunci hingga bantal tidur, yang kesemuanya berbentuk strawberry.
Wisata ke Ciwidey rasanya tak lengkap tanpa membawa oleh-oleh buah merah menyala itu. Cukup banyak pedagang yang menjajakan strawberry, baik yang masih berupa buah segar maupun dalam bentuk jus. Sekotak kemasan plastik ukuran 0,5 kg strawberry dijual dari harga Rp 5.000 hingga Rp 20.000. Tapi hati-hati. Karena biasanya strawberry dalam kemasan ini hanya bagus di bagian atas, sedang di bawahnya ditempatkan buah yang sudah rusak.
Karena itu, meski lebih mahal, ada baiknya membeli strawberry yang belum dikemas, sehingga bisa memilih sendiri. Bahkan, sepanjang perjalanan menuju Ciwidey banyak petani yang menawarkan kesempatan bagi para pembeli untuk memetik sendiri strawberry dari pohonnya yang ditanam dalam polybag atau kantong-kantong plastik.(Fauzan Dj)

Tuesday, December 09, 2008

Menikmati Keindahan Kawah Putih & Situ Patenggang

Catatan : Tulisan ini merupakan tulisan dua seri (baca juga posting berjudul ''Jalan Menuju Ciwidey'') yang pernah dimuat di rubrik Jalan-Jalan di Harian Suara Merdeka Minggu 2008



COBA tanyakan sahabat Anda, tempat menarik mana yang ingin mereka kunjungi jika berkesempatan berlibur di Bandung. Sebagian besar dari mereka mungkin akan menjawab Lembang, Tangkuban Perahu, arung jeram di sungai Citarik, atau berbelanja di Cihampelas. Tapi coba tanyakan apakah mereka tahu Ciwidey. Pasti kebanyakan mereka akan mengernyitkan dahi.
Ciwidey ? Ya. Meski kawasan wisata di Bandung Selatan ini memiliki panorama alam sangat indah, ternyata belum banyak yang mengenalnya. Bagi warga Jakarta sekitarnya yang setiap hari disibukkan urusan kantor, berlibur di Situ Patengan dan Kawah yang tersembunyi di perbukitan Ciwidey merupakan tempat alternatif membuang penat.
Sebelum ini, kawasan Puncak selalu menjadi pilihan utama. Selain berhawa sejuk, jaraknya tak terlalu jauh dari Ibukota. Tapi lantaran semua orang pergi ke Puncak, setiap akhir pekan dan musim liburan kawasan kini macet oleh angkutan umum dan kendaraan pribadi. Maunya menghilangkan penat, malah stress yang didapat. Karena Jakarta – Puncak yang normalnya bisa dicapai dalam 1-1,5 jam, bisa molor hingga 4-5 jam.
Maka kini Puncak mulai ditinggalkan. Apalagi setelah selesainya tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) yang memungkinkan Jakarta - Bandung ditempuh dalam waktu 2 jam. Tapi jalan-jalan ke Bandung yang sering terpikir hanya wisata kuliner atau belanja di Cihampelas. Padahal jika mau sedikit menjelajah ke luar kota, banyak panorama alam pegunungan yang indah dan sejuk di bagian Selatan, yakni kawasan wisata Ciwidey.
Ada sejumlah tempat yang asik dinikmati di kawasan hutan milik PT Perkebunan Nusantara (Persero) ini. Di antaranya bumi perkemahan dan penangkaran rusa Rancaupas, wisata air panas Ciwalini dan Cimanggu, Kawah Putih dan Situ Patengan.
Kawah Putih (White Crater) yang merupakan salah satu tempat favorit dikunjungi wisatawan adalah sebuah kawah menyerupai danau di tengah pegunungan. Kawah berbentuk mirip danau ini terbentuk akibat erupsi Gunung Patuha yang memiliki ketinggian 2.343 meter di atas permukaan laut (dpl) antara abad 10-12.
Keberadaan Kawah Putih semula tak banyak diketahui orang karena puncak Gunung Patuha oleh masyarakat setempat dianggap angker, sehingga tak seorangpun yang berani menjamahnya. Keindahan Kawah Putih baru terungkap pada 1837 oleh seorang Belanda pernakan Jerman, Dr Franz Wilhelm Junghuhn. Meski ditemukan pada 1837, keindahan Kawah Putih tetap tersembunyi tidak di kenal dan belum bisa dinikmati oleh masyarakat luas sampai PT. Perhutani mengembangkannya menjadi obyek wisata alam pada 1987.
Tak seseram namanya, Kawah Putih justru membuat orang takjub oleh keindahannya. Ia dikelilingi dinding bukit yang sangat terjal, tetapi, pada bagian lain landai meyerupai pantai. Kita bisa berjalan ke tepinya dan menyentuh air kawah yang mengandung belerang. Warna air danau sering berubah tergantung cuaca dan kandungan mineral kawah. Terkadang putih susu, terkadang berwarna hijau apel atau kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, ada kalanya berwarna coklat susu seperti tanah berpasir yang mengitarinya. Hal sama terjadi pada cuaca yang kerap berubah tiba-tiba; panas terik, mendung, hujan, atau kabut yang tiba-tiba turun.
Kekayaan warna dan keindahan alam inilah yang membuat Kawah Putih menjadi tempat favorit para fotografer dan calon pengantin untuk membuat foto pra nikah (pre wedding), baik untuk dicetak di kartu undangan maupun dipajang di tempat resepsi.

Lokasi lain yang kerap dijadikan setting pre wedding session adalah Situ Patengan. Tempat ini mengingatkan kita akan Telaga Sarangan. Yang membedakan, di kiri-kanan Situ Patengan terhampar luas kebun teh, laksana karpet alam berwarna hijau menyegarkan mata, yang menawarkan alternatif wisata lainnya, yakni trekking (berjalan menyusuri kebun teh). Selain itu, dari segi kebersihan dan fasilitas yang tersedia, obyek wisata ini jelas terlihat lebih terawat dan dikelola dengan baik.
Berada di ketinggian sekitar 1600 m dpl, Danau Patenggang atau lebih dikenal dengan nama Situ Patenggang, menempati areal seluas 150 Ha. Dulunya kawasan ini merupakan kawasan cagar alam atau taman nasional. Namun pada 1981 resmi berubah menjadi sebuah taman wisata.
Selain menikmati panorama dari gazebo atau tempat-tempat duduk tanpa atap yang terbuat dari semen, kita juga bisa menyewa perahu mengelilingi pulau Sasuka atau singgah di Pulau Asmara dan Batu Cinta. Menurut legenda, siapapun yang singgah ke Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara akan mendapatkan cinta yang abadi. Hal inilah yang mungkin membuat wisatawan sayang melewatkan dua tempat ini.
Jika datang bersama rombongan, kita bisa menyewa perahu berkapasitas 15-20 orang dengan membayar Rp 150-200 ribu untuk berkeliling selama 1 jam. Termasuk berhenti di Batu Cinta untuk berfoto di sana. Sedang untuk perorangan, dikenakan tarif Rp 15.000 per orang. Rasanya kurang lengkap jika berkunjung ke obyek wisata ini tanpa membeli cinderamata dan oleh-oleh khas Ciwidey. Tak usah khawatir, karena selain warung makan di sana banyak kios yang menjajakan strawberry, terong belanda dan berbagai macam cinderamata. Termasuk baju hangat dan topi masker wool untuk menahan udara dingin jika Anda lupa membawanya dari rumah.

Tuesday, December 02, 2008

Dunia Yang Tidak Adil

Pareto dan kisah Dunia yang tak adil



"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",

Rekan saya, Pak Asep al mukarrom, memang teman sejati saya untuk
bersama-sama menertawakan dunia.

"Betul itu Pak! Ungkapan Bapak itu filosofis sekali…", ujar saya
mengamini kesimpulan dia.

Tuhan Maha Adil.

Dan dunia ini diciptakan penuh ketidakadilan.

Tuhan Maha Adil bukan berarti lalu menciptakan dunia yang adil. Dunia
ini memang diciptakan penuh ketidakadilan. Ada anak yang terlahir
miskin. Itu realita. Walaupun dia jenius, tetap saja tidak bisa masuk
sekolah unggulan yang menarik iuran mahal. Ada yang bekerja keras
dengan hasil sedikit, dan ada yang bekerja santai dengan hasil yang
banyak.

Kata Pareto, dari lima roti yang tersedia, empat roti akan dimakan
hanya oleh satu orang, sementara satu roti sisanya akan diperebutkan
oleh empat orang. Selalu akan ada yang hidupnya jauh lebih nyaman
daripada lainnya. Kata siapa dunia itu adil?

Dunia memang tidak adil, kawan.

Kalau kita meyakini Allah itu Maha Adil, kemudian Allah menciptakan
lingkungan yang adil buat kita, maka… kesimpulan itu salah! Allah
maha berhak untuk menciptakan dunia yang penuh ketidakadilan. Allah
akan menilai kita dengan adil, yaitu bagaimana ikhtiar kita bereaksi
terhadap ketidakadilan itu. Allah adil dalam menilai amal kita, dan
Allah memang sengaja menciptakan dunia yang tidak adil.

Jadi, dunia ini tidak adil.

Sebuah buku tulisan Richard Koch berjudul The 80/20 Principle
mengupas banyak tentang dunia yang tidak adil itu. Telah ditemukan
bahwa pekerja dengan jabatan yang lebih tinggi justru bekerja jauh
lebih mudah dan santai dengan imbalan yang jauh lebih besar. Di
strata lebih bawah pekerjaan bisa lebih sulit, anehnya dengan imbalan
lebih sedikit.

Tentu saja buku itu (juga tulisan ini) tidak bermaksud membuat
provokasi untuk unjuk rasa menggugat ketidakadilan. Buku itu
mengingatkan – persis seperti yang disimpulkan al mukarrom Pak Asep –
bahwa dunia yang sejati itu memang tidak adil.

Jadi kita harus menyadari dan menerima bahwa banyak hal itu tidak
adil. Negara misalnya, sering tidak adil. Lingkungan pun demikian,
sering tidak adil. Bahkan sistem di kantor Anda pun sangat mungkin
tidak adil. Karena memang awalnya tidak adil, lalu ketika orang-
orangnya berusaha membuat keadilan maka akan terjadi silang pendapat
tentang seperti apa bentuk yang adil itu. Akhirnya adil yang sempurna
itu memang tidak ada. Apa yang dipandang adil seseorang, bisa
dipandang zalim oleh orang yang lain. Apa yang pimpinan pandang adil,
bisa dipersepsi tidak adil oleh bawahannya.

Mari kita terima saja bahwa dunia ini tidak adil. Jangan terlena oleh
buaian penghibur yang mengatakan dunia ini adil. Kita terima saja
kenyataan bahwa orang baik sering kalah, orang jahat sering menang.
Kita terima saja bahwa kerja keras tidak berkorelasi positif dengan
penghasilan. Juga kita terima saja bahwa orang yang baik pun belum
tentu mendapat pasangan yang sama baiknya.

Dan Pak Asep al mukarrom benar. Kita sendirilah yang harus
menciptakan keadilan … buat kita sendiri.

Tuhan Yang Maha Adil sungguh telah membekali diri kita
dengan `potensi keadilan' untuk mengarungi dunia yang tidak adil.

Mula-mula berusahalah untuk adil buat diri kita sendiri. Kalau
bekerja, ya boleh-boleh saja kerja keras, tapi bila senja telah tiba,
ingatlah untuk segera pulang karena keluarga menunggu di rumah. Itu
adil buat kita, juga adil buat keluarga kita. Bila tugas kantor
menumpuk, ambil jeda untuk istirahat dan olahraga ringan, karena
itulah yang adil buat tubuh kita. Bila sistem kerja di kantor belum
bisa mencapai bentuk yang ideal (dimana keadilan terjadi dengan
merata), maka kitalah yang harus cerdik memutar otak agar masih bisa
berlaku adil minimal buat diri kita sendiri. Yang harus kita andalkan
bukan sekedar kecerdasan emosi (tekun bekerja keras) dan kecerdasan
spiritual (bersabar dan bersyukur), tapi juga kecerdasan power
(menjadi cerdik dengan worksmart).

Mula-mulanya kita ciptakan keadilan buat diri kita sendiri. Setelah
itu kita ciptakan keadilan buat keluarga kita. Lalu kantor kita. Lalu
orang-orang yang lebih jauh dari kita. Lalu seluruh umat manusia dan
alam semesta.

Tuhan Yang Maha Adil sengaja telah menciptakan dunia ini penuh dengan
ketidakadilan.

"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",

(From K.Ummah)

Saturday, November 29, 2008

Masjid Kubah Emas

Catatan :
Ini feature yang aku tulis beberapa bulan lalu dan dimuat di rubrik "Jalan-Jalan" di harian Suara Merdeka (http://www.suaramerdeka.com/). Kalau aku nulis tentang Masjid Kubah Emas, bukan berarti aku 100% setuju dengan proyek megah tersebut, secara ideologis. Ada hal positif dan negatifnya, pro-kontra.
Karena udah beberapa bulan lalu, mungkin kondisinya sudah berbeda. Lalu lintas kemacetannya, keramaian pengunjungnya dsb.

KALAU disebut masjid terbesar di Indonesia, hampir semua orang akan menyebut satu nama; Istiqlal. Ya, masjid yang berdiri di jantung ibukota Jakarta
itu oleh presiden RI pertama, Bung Karno memang dibangun untuk mewujudkan obsesinya untuk memiliki sebuah masjid yang terbesar dan termegah se Asia Tenggara.
Tapi, seperti bangunan pencakar langit tertinggi dunia yang rekornya selalu terpecahkan, reputasi Istiqlal sebagai yang terbesar dan termegah kini mulai tergeser. Tidak perlu di tingkat Asia Tenggara. Di tanah air sendiri pun kini sudah banyak berdiri masjid berukuran besar dengan arsitektur modern yang selama ini hanya dapat disaksikan di gedung-gedung modern seperti hotel, mal dan pusat perkantoran. Bahkan masjid-masjid megah itu tidak hanya didominasi Jakarta, tetapi juga tersebar di kota-kota lain seperti Makassar, Banda Aceh, Tasikmalaya dan Semarang,
Namun yang sekarang paling menghebohkan adalah munculnya sebuah masjid berkubah emas di satu desa Meruyung, Kota Depok, Jawa Barat. Baru mendengar ada masjid berlapis emas saja pasti membuat orang penasaran. Apalagi jika sudah melihat langsung keindahan dan kemegahan arsitekturnya. Pasti akan mengundang decak kagum dan membayangkan berapa triliun uang yang dikeluarkan untuk membangun semua itu.
Rasa penasaran itulah yang belakangan membuat ratusan, bahkan ribuan umat Islam dari berbagai penjuru daerah, baik Jawa maupun luar Jawa, ramai-ramai mendatangi masjid di desa kecil tersebut. Setiap hari, terutama pada Sabtu dan Minggu, puluhan busdan mobil pribadi berpelat nomor luar
kota
yang mengangkut ratusan anggota pengajian atau majelis taklim berjejal memasuki
kota
Depok. Keadaan ini memperparah lalu lintas jalan Depok – Meruyung berjarak 7 kilometer yang sedang dikepung kemacetan karena adanya pembangunan jembatan layang dan banyaknya jalan berlobang yang belum ditambal karena musim hujan.
Jumlah pengunjung makin bertambah sejak masjid di Kompleks Islamic Center Dian Al-Mahri itu diresmikan dan dibuka untuk umum pada hari raya Idul Adha 31 Desember 2006. Apalagi setelah Pondok Pesantren Daarut Tauhid pimpinan Aa Gym di Geger Kalong,
Bandung
kehilangan magnet menyusul poligami yang dilakukan dai kondang tersebut. Anggota majelis taklim yang sebelumnya mengidolakan Aa pun seperti menemukan tempat pelarian baru sebagai tempat wisata rohani. Ironisnya, Aa Gym-lah yang diundang pemilik yayasan, Hj Dian Juriah Maimun Al-Rasyid (58) untuk mendampingi meresmikan masjid ini akhir tahun lalu.
Gagasan untuk membangun masjid megah berkubah emas ini lahir dari sang pemilik setelah menunaikan ibadah hajinya yang ke-34. ‘’Setelah ibadah haji itu saya seperti begitu saja mendapat hidayah dari Allah. Begitu juga lokasinya, inspirasi dating begitu saja,’’ tutur wanita asal Serang, Banteng ini. Gagasan itu bisa diwujudkan, karena suaminya, Hj Maimun yang berasal dari
Padang
adalah pengusaha minyak di Arab Saudi. Konon pembangunan proyek ambisius ini juga mendapat dukungan dana dari Timur Tengah. Tapi Hj Dian menampik itu.
‘’Saya membangun dan memelihara masjid ini semuanya dari uang pribadi. Tidak utang ke bank, atau pihak mana pun. Juga tidak meminta sumbangan,’’ tepisnya.
Jadi jangan heran jika saat shalat di masjid ini jamaah tidak melihat adanya kotak amal (tromol) di sekitar masjid, seperti masjid pada umumnya. Malahan pada berbagai kegiatan majelis yang digelar sebelum masjid selesai dibangun, kepada jamaah yang hadir tuan rumah membagi-bagikan bingkisan berisi sembako.
Keinginannya untuk membangun masjid kubah emas kian mantap setelah Hj Dian dan suami yang sehari-hari tinggal di Petukangan, Jakarta Selatan, berkenalan dengan seorang prinsipal desainer bernama Uke G Setiawan. Merasa menemukan orang yang cocok diserahi perencanaan proyek menantang itu, Hj Dian pun segera mencari tanah di kelurahan Meruyung..
Jayadih (62), mantan lurah Meruyung bercerita, ‘’Bu Dian datang kepada saya tahun 1996, mencari tanah untuk pembangunan masjid. Kemudian secara bertahap tanah di sekitarnya terus dibelinya,’’ kata Jayadih yang kini duduk sebagai koordinator pengajian di Yayasan tersebut.
Begitu tanah diperoleh, pada Desember 1998 dimulailah perkerjaan perencanaan tahap pertama. Pada 2001 masjid seluas 7200 meter persegi itu mulai dikerjakan. Dan dalam waktu enam tahun, proyek besar tersebut berhasil dirampungkan. Selain induk masjid, saat ini juga telah berdiri gedung auditorium yang hampir sama luasnya dengan masjid, juga rumah-rumah penginapan untuk pengunjung dan peserta pengajian. Ke depan, kompleks Islamic Center yang berada di atas areal tanah seluas 80 hektare lebih rencananya juga akan dilengkapi dengan universitas, rumah sakit dan sekolah perawat.
Tidak terlalu sulit sebenarnya mencapai lokasi masjid berkubah emas ini. Letaknya di pinggir jalan raya antara Depok – Cinere. Pengunjung yang datang dengan kendaraan roda empat atau Kereta Rel Listrik (KRL) Jabotabek dari arah Pasar Minggu dan
Bogor
bisa mengambil rute melewati pusat Kota Depok. Bagi yang menggunakan angkutan umum, satu-satunya pilihan adalah angkot D-03 jurusan Depok – Parung. Cukup dengan membayar ongkos Rp 2.500, turun di pertigaan bernama unik; Parung Bingung. Setelah itu nyambung lagi dengan angkot D-102 jurusan Parung Bingung – Lebak Bulus. Ongkosnya lebih murah lagi, Rp 1.000, karena jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer.
Meski jarak dari terminal Depok ke lokasi yang hanya 7 kilometer, karena sempitnya jalan dan banyaknya aspal berlobang yang belum dibetulkan waktu yang ditempuh mencapai setengah jam. Terlebih pada hari Sabtu dan Minggu. Padatnya lalu lintas di ruas itu, apalagi jika pada waktu yang bersamaan ustadz kondang Arifin Ilham yang tinggal di ruas jalan yang sama menggelar majelis dzikir, kendaraan hanya bisa berjalan merayap. Bisa-bisa lebih dari satu jam baru bisa sampai ke tujuan.
Satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum berangkat. Jangan memotret di dalam masjid atau membawa anak berusia di bawah 10 tahun, karena mereka bakal dilarang masuk ke Kompleks Islamic Center. Tidak jelas mengapa ada aturan aneh yang membatasi usia orang memasuki masjid, sedangkan di Masjidil Haram saja orang bebas thawaf mengelilingi Kakbah sambil memanggul anaknya di atas pundak. Kabar yang terdengar, ketentuan tersebut bersifat sementara demi ketertiban karena terbatasnya askar atau petugas keamanan yang berjaga di lingkungan masjid.
Terlepas dari parahnya kemacetan, keberadaan masjid milik Hj Dian ini memberikan nafkah tambahan bagi warga sekitar. Di samping mempekerjakan penduduk sebagai tenaga kebersihan, satpam dan penjaga masjid, banyak warga sekitar yang mengais rejeki dengan membuka warung makan, tempat penitipan kendaraan, sampai pedagang kaki lima.

Pengalaman Masuk Ka'bah

Salah satu obsesi umat Islam yang tengah menunaikan ibadah di Tanah Suci, khususnya Masjidil Haram, adalah bisa mencium Hajar Aswad. Batu hitam - konon dari Surga - yang tertanam di sudut Kakbah. Untuk mendapatkan kenikmatan ruhani itu perlu perjuangan fisik yang cukup berat, karena harus siap berebut dan saling dorong dengan orang-orang ribuan orang yang ingin melakukan hal yang sama. Tapi bagaimana rasanya jika kita tidak saja bisa mencium Hajar Aswad, tetapi juga berkesempatan masuk ke dalam Kakbah. Hal yang tidak sembarang orang - termasuk warga Mekkah sendiri - mempunyai kesempatan untuk merasakannya ?

Alhamdulillah, atas berkah dari Allah, saya pernah merasakan kenikmatan itu ketika mendampingi Presiden Soeharto sebagai tamu Kerajaan Arab Saudi, menunaikan ibadah umrah sebelum kembali ke tanah air dari serangkaian kunjungan kenegaraan pada akhir Oktober 1995.
Cerita di bawah ini adalah kliping tulisan saya yang pernah dimuat di harian Suara Merdeka di bawah judul ”Pengalaman Masuk dan Shalat di Dalam Kakbah". Selamat membaca..


SETELAH penerbangan yang melelahkan selama tigabelas setengah jam dari bandara Johan Adolf Pengel, Pramaribo, Suriname, Senin (30/10) pagi pukul 08.30, roda pesawat Garuda DC-10 yang kami tumpangi mulai menyentuh landasan bandara Jeddah. Tepuk tangan membahana di dalam pesawat, menyukuri kami telah tiba dengan selamat di pintu gerbang menuju kota Mekah, setelah selama dua pecan mengikuti perjalanan Presiden Soeharto menghadiri KTT XI GNB di Kolombia, HUT 50 tahun PBB di New York, kunjungan ke Suriname, dan diakhiri umrah di Tanah Suci.
Saat pesawat melakukan taxiing, berjalan lambat menuju tempat parker, dari jendela terlihat sebuah bangunan terbuka beratap tenda-tenda putih. Satu-satunya bangunan yagn berdiri di antara pasir panas di tepi landasan adalah tempat penampungan sementara jamaah haji sebelum diangkut ke Tanah Suci.
Beberapa saat setelah berhenti, kami, para wartawan dan belasan anggota Paspampres, dipersilahkan lebih dulu menuruni tangga pesawat menuju sebuah gedung megah. Berbeda dari suhu di luar yang terasa panas meski masih pagi, di ruang berukuran sekitar 20×20 meter itu AC terasa sejuk. Lantainya beralaskan karpet beludu cokelat, sedangkan di dinding-dindingnya yang tinggi puluhan lukisan besar bercerita tentang keagungan budaya Arab.
Ketika saya amati dengan cermat, ternyata ia bukan lukisan biasa. Lukisan itu dibuat dari serpihan kaca atau keramik berukuran 0,5×1 cm yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah lukisan mahakarya.
Umrah Dulu
Seperempat jam di ruangan itu kami manfaatkan untuk berfoto-roto sebelum minibus Konjen RI di Jeddah menjemput kami. Para wartawan didrop di Holiday Inn, 200 m dari guest house tempat rombongan Presiden menginap.
Kami tak sempat berisitirahat lama. Karena setelah pembagian gamar, jam 12.00 langsung dibrifing petugas Konjen tentang tatacara menunaikan ibadah umrah, termasuk bagaimana mengenakan kain ikhram. Wartawan memang diberikan kesempatan lebih dulu menunaikan umrah, dengan harapan malamnya bisa mengikuti umrah Presiden sambil meliput.
Pukul 14.00, setelah semua mengerjakan salat sunah di kamar masing-masing, kami berangkat menuju Mekah lengkap dengan pakaian ikhram. Jarak 75 km Jeddah – Mekah kami tempuh dalam waktu satu setengah jam. Sepanjang perjalanan, sembari menyaksikan pemandangan alam Negara itu kami tak henti-hentik membaca talbiyah.
Rombongan tiba di Tanah Suci tepat waktu asar. Setelah menitipkan tas berisi pakaian ganti di sebuah hotel di depan Masjidil Haram, kami bersama-sama menuju rumah Allah untuk sembahyang asar. 23 wartawan yang ikut dibagi dua kelompok, yang masing-masing dipandu seorang muthawif dari Konjen.
Selesai shalat asar, kami mulai melakukan thawaf dari batas sudut Hajar Aswad. Sebenarnya kami ingin mengawalinya dengan mencium Hajar Aswad. Tapi karena benda sakral itu dikerubuti ratusan jamaah yang beradu otot untuk hal yang sama, niat kami urungkan.
Satu demi satu putaran kami lewatkan dengan menirukan doa thawaf yang dilafalkan muthawif atau membaca buku pegangan yang disediakan. Usai thawaf kami menuju bukit Safa untuk melakukan Sa’i, berlari-lari kecil antara Safa-Marwa yang melambangkan perjuangan Siti Hajar dalam upaya mendapatkan air minum untuk putranya Ismail yang kehausan di padang pasir. Sa’i pun kami akhiri dengan menggunting beberapa helai rambut sebagai tahalul.
Meskipun dengan selesainya tahalul semua rukun umrah telah terpenuhi, rasanya belum lengkap bila kesempatan beradai di Masjidil Haram tidak dimanfaatkan untuk mencium Hajar Aswad. Maka untuk menembus ribuan jamaah, saya mencoba mengikuti arus mereka sambil berangsur mendekati dinding kakbah.
Alhamdulillah. Sesampai di Rukun Yamani, saya bverhasil antre di antara puluhan jamaah. Hampir 20 menit saya berusaha mempertahankan posisi ini dengan berpegang erat pada tali kiswah, kain hitam penutup Kakbah. Sampai akhirnya tiba giliran mencium Hajar Aswad. Hanya beberapa detik itu terjadi. Sebab beberapa kepala yang sudah berada di depan Hajar Aswad begitu bernafsu mendorongkan mulutnya ke batu hitam itu.
Itu merupakan klimaks dari adu otot kami. Sebab berikutnya dengan leluasa saya bisa memperoleh tempat untuk berdoa di Multazam, meski tanpa berpegang kaki pintu kakbah seperti dilakukan orang-orang. Demikian pula tempat shalat di dekat Hijr Ismail.
Selesai umrah, sambil menunggu saat maghrib tiba yang tinggal setengah jam lagi kami manfaatkan untuk minum dan berwudhu dengan air zamzam yang tersedia di keran-keran dekat sumur. Memikirkan tentang sumur yang lahir dari jejakan kaki Nabi Ismail ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT. Betapa tidak. Sumur ini nyaris tidak sedetikpun berhenti diambil airnya. Bahkan jutaan umat Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia selalu membawa pulang berliter-liter air untuk dibawa pulang. Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa sumur itu mulai mengering.
Kami baru kembali ke hotel untuk berganti pakaian lepas shalat magrhir, dan kembali lagi untuk shalat isya. Sambil menunggu kedatangan Presiden dan rombongan, kami berjalan di pertokoan sekitar Masjidil Haram untuk mencari sekedar oleh-oleh.
Rombongan Kepala Negara akhirnya datang pukul 21.00. Tapi sejak satu jam sebelumnya puluhan petugas keamanan Kerajaan Arab Saudi dikerahkan di lokasi. Mereka membuat pagar betis mulai dari gedung tempat tamu negara diterima hingga pintu utama Masjidil Haram.
Melihat rombongan Presiden hampir masuk Masjidil Haram, kami buru-buru menitipkan barang bawaan ke resepsionis hotel dan kembali dengan kamera. Celakanya kamera tak boleh dibawa masuk ke dalam. Karenanya saat Presiden mulai masuk melalui King Abdul Aziz Gate, kamera saya titipkan ke seorang teman. Karena terdesak waktu, saya tidak pedulu bahwa saya sudah kehilangan wudhu saat jalan-jalan tadi. Sebab jika sampai terlambat, saya khawatir tidak bisa ikut masuk, meski sudah dipekali tanda pengenal khusus rombongan kepresidenan bertuliskan R2.
Saat memasuki pintu Masjidil Haram, seluruh rombongan yang dipandu H Muhaimin dari Konjen RI di Jeddah langsung membaca doa; Allahumma antassalaam, waminkas salaam dst. Begitu Presiden mendekati kakbah, ratusan atau bahkan ribuan jamaah yang malam itu sedang melakukan thawaf “dibersihkan” untuk memberikan prioritas pada rombongan Tamu Negara. Alhasil, mereka hanya bisa berthawaf dari luar pagar betis, pada radius sekitar 7m dari kakbah.
Sebelum mengawali thawaf, Presiden Soeharto terlebih dulu mencium Hajar Aswad, diikuti Ibu Tien, Mbak Tutut, Indra Rukmana, Bambang dan Halimah Trihatmodjo serta cucu-cucu Presiden, baru dususul anggota rombongan lainnya. Menteri yang mengikuti thawaf kali ini adalah Menag Tarmizi Taher, Menlu Ali Alatas dan Mensesneg Moerdiono.
Dari tujuh putaran thawaf, tercatat empat kali Presiden mencium Hajar Aswad. Setelah menyelesaikan thawafnya, mereka shalat dua rakaat dan berdoa sambil mencium kiswah di Multazam. Saat itulah sekitar sepuluh askar, satpamnya Masjidil Haram menyiapkan sebuah tangga terbuat dari kayu di bawah pintu kakbah. Tangga setinggi dua meter itu bentuknya mirip dengan tangga untuk menaiki pesawat terbang.
Mengetahui adanya tangga yang disiapkan untuk memasuki Kakbah, para jamaah yang tengah melakukan thawaf serentak menghentikan kegiatannya. Jumlah mereka yang berjubel di sisi pintu bangunan hitam makin lama makin bertambah banyak. Mereka makin terpaku saat empat petugas di puncak tangga bahu-membahu menyibakkan kain kiswah penutup pintu, yang agaknya cukup tebal dan berat.
‘’Allahu akbar !’’ begitu mulut para jamaah berteriak spontan ketika dari balik kain itu terlihat jelas pintu berlapis emas berukuran sekitar 1,5×4 meter berhias kaligrafi huruf Arab. Mereka makin histeris lagi ketika pintu setebal genggaman tangan orang dewasa itu dibuka, sekalipun yang tampak hanya ruang gelap tanpa penerangan. Sambil menangis histeris mereka berulangkali meneriakkn “Allahu akbar” dan “Subhanallah” seraya menepuk-nepuk kepalanya dan sesekali menengadahkan kedua telapak tangannya menghadap kakbah.
Dari bawah, seorang petugas membawa sebuah neon baterei diikuti sejumlah rekannya. Dengan penerangan darurat itu mereka membersihkan lantai kakbah dari debu sebelum akhirnya mempersilahkan Pak Harto dan rombongan mengikuti mereka masuk ke dalam. Rupanya tidak mudah mengatur rombongan yang jumlahnya tak lebih dari seratus orang ini untuk tidak berebut. Sampai-sampai Menlu Ali Alatas harus ditarik tanggannya dari atas agar bisa mencapai ujung tangga.
Tadinya kami pikir mereka hanya akan memberikan kesempatan kepada Presiden dan keluarganya, mengingat kapasitas ruang di dalam kakbah memang tidak memungkinkan untuk menampung seluruh rombongan sekaligus. Tetapi dari isyarat yang kami tangkap, para askar minta rombongan lain tenagn dan tidak berebut, karena semua yang memiliki tanda pengenal dari Konjen akan diberi kesempatan yang sama.
‘’Suwaiyya.. suwaiyya…. All of you will be gived chance to entrance,’’ kata seorang askar mencoba menjelaskan dalam bahasa Inggris sembari meraptkan jari-jari tangannya, meminta bersabar.
Sampai di sini perasaan saya jadi tidak menentu. Pertama, karena berarti saya juga akan memperoleh kesempatan yang jarang diperoleh jemaah mana pun. Kedua, karena saya justru dalam keadaan batal. Menit demi menit menunggu giliran tersebut saya terus dihantui pilihan; rugi besar bisa masuk ke dalam kakbah tetapi tidak bisa shalat di dalamnya, atau keluar untuk mengambil air wudhu dengan risiko tidak bisa masuk lagi ke dalam barisan.
Saya sempat bertanya kepada pembimbing umrah yang berdiri di samping apakah saya bisa bertayamum. Ia terdiam sejenak. Tetapi apa jawabnya kemudian ? “Kalau persoalannya tidak ada air, boleh saja tayyamum. Masalahnya sekarng kan ada air.”
Matilah, pikir saya. Hanya sekitar lima menit sebelum giliran itu tiba, saya memutuskan nekad barisan untuk meminta izin kepada askar mengambil air wudhu dengan catatan diizinkan masuk lagi. Ketika hendak keluar, petugas pagar betis menghalang-halangi. Tetapi saja jelaskan bahwa saya punya pas dan hendak berwudhu, dia meinta saya melapor sendiri ke komandannya. Berhasil ! Maka tanpa pikir panjang, saya pun lari menembus kerumunan jamaah dengan telanjang kaki sambil menyingsingkan legan baju. Apa yang saya lakukan ini mengudang perhatian jamaah di jalan yang saya lewati. Mereka pikir saya mau menyia-nyiakan kesempatan emas, yang belum tentu orang Mekah sendiri pun bisa merasakannya.
Begitu terburu-buru saya mengambil air wudhu di dekat sumur zamzam, sehingga sebagian baju dan celana panjang saya basah oleh cipratan air. Tetapi saya tak peduli. Dan lega bukan main saat perjuangan saya mendapatkan wudhu sambil terengah-engah membawa hasil. Namun saat sadar sebentar lagi saya akan bisa masuk ke dalam rumah Allah, perasaan saya kembali tak menentu. Karena kami, brangkali juga orang lain, memang tak pernah memimpikannya. Saya bahkan tak tak tahu apa yang akan saya perbuat sesampai di dalam nanti.
Benar saja. Begitu menginjakkan kaki di dalam kakbah, tanpa sebab yang jelas saya menangis sejadi-jadinya. Saya melihat hal sama dialami orang-orang di sekitar saya. Di dalam raungan yang gelap itu saya mendengar dengan jelas setiap orang menangis sesunggukan, karena perasaan bahagia yang tak terlukiskan. Tetapi siapa dan mereka saya tidak tahu, karena yang bisa saya tidak bisa melihat dengan jelas dii ruang berukuran sekitar 7×7 meter yang remang-remang itu. Secara samar saya melihat beberapa benda, semacam guci tua terbuat dari emas, perak, atau entah apa tergantung di langit-langit kakbah. Di dekat satu-satunya tiang di tengah-tengah kakbah ada sebuah meja berukuran kira-kira 70×70 cm warna hijau, tempat diletakkannya neon batere. Di bagian dinding yang menghadap Hijr Ismail temboknya menjorok agak keluar, seperti tempat imam di masjid-masjid.
Suhu udara di dalam kakbah saat itu cukup panas. Mungkin karena bangunan batu yang selalu berselimutkan hitam itu selalu tertutup rapat dan jarang sekali dibuka untuk umum. Buktinya, bersamaan dengan rombongan Kepala Negara ada tujuh-delapan wanita Arab bercadar – tampaknya masih keluarga kerajaan – minta masuk ke dalam kakbah tanpa dihalang-halangi askar. Di antara para askar sendiri tampak yang ingin mendapat kesempatan serupa.
Sambil sesunggukan dan seluruh pakaian basah oleh peluh, saya coba memanfaatkan kesempatan langka ini untuk shalat sunah dua rakaat menghadap salah satu sisi tembok. Ya, arah kiblat di dalam kakbah ini memang berbeda dari tempat lain. Jika di luar orang shalat menghadap kakbah, di dalam ruangan justru membelakangi dengan masing-masing shalat menghadap keempat sisi tembok.
Selesai shalat selagi masih di dalam kakbah saya berusaha berdoa. Meminta apa pun keinginan yang terpikir saat itu. Tetapi lantaran waktunya tidak panjang, kami tidak bisa berlama-lama. Karena para askar yang dari tadi terus meminta semua orang untuk berburu-buru meninggalkan ruangan mengusir saya sambil berucap, “’Ruh.. ruh..” kata mereka sambil mendorong-dorong lengan saya.
Setelah apa yang terjadi saat itu begitu lega dan ringan langkah saya menuruni tangga. Dari atas tangga saya melihat orang-orang di bawah sana tampak iri dengan apa yang saya dapatkan. Barangkali ini memang hari keberuntungan kami. Sebagai rasa syukur, saya kembali melakukan shalat sunah di Hijr Ismail. Baru saja mau takbiratul ikhram, seorang jamaah – yang tampaknya berasal dari Indonesia – tiba-tiba berdiri di sebelah. Sambil mencuri-curi agar tidak terlihat petugas, orang itu berbisik ke telinga saya. “Mas..mas. Boleh saya pinjam tanda pengenalnya sebentar saja, nanti saya kembalikan.”
Tanpa dijelaskan, saya tahu dia ingin memanfaatkan kartu pengenal itu untuk bisa ikut masuk ke dalam kakbah. Mulanya saya ragu. Tetapi kemudian saya pikir, apa salahnya memberikan kesenangan kepada orang lain. Maka saya pun membiarkan orang itu memakai kartu pengenal tersebut, setelah sebelumnya melepas pas foto saya. Hitung-hitung mencari pahala dengan membahagiakan orang lain.(*)

My Family, My Love

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
"Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya.
Ia berkata, "Maafkan saya juga. Saya tidak melihat Anda."
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.
Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
"Minggir," kata saya dengan marah.
Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku,
"Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.
Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.
Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya.
Bangun, nak, bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"
Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."

Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu. Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu. " Akupun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukaibunga-bunga ini, apalagi yang biru."

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaankita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Investasikan waktu untuk keduanya secaraberimbang.

Kesetiaan Pak Suyatno

Based on True Story..

Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi. Usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno, 58 tahun, kesehariannya dia isi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak. Di sinilah awal cobaan menerpa. Setelah istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun.
Menginjak tahun ketiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidakbisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia gendong istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi Pak Suyatno selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya, Pak Suyatno pulang memandikan dan mengganti pakaian istrinya. Selepas maghrib, dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang. Bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya, bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka. Sekarang, anak-anak mereka sudah dewasa. Tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari, keempat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orangtua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing-masing. Pak Suyatno memutuskan mereka sendiri istri sekaligus ibu anak-anak itu. Yang diinginkan Pak Suyatno hanya satu: semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati, anak yang sulung berkata. “Pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil, kami melihat Bapakmerawat ibu tanpa ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan, Bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.''
Dengan air mata berlinang, anak itu melanjutkan, “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak, jika terus berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak seperti ini. Kami janji akan merawat ibu bergantian.”

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.
“Anak-anakku, jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.'' Sejenak kerongkongannya tersekat. ''Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, yang tidak ada satu pun yang lebih berharga dari itu.''
''Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia. Apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang? Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah SWT kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?”

Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga melihat butiran-butiran kecil air jatuh dari pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu, ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Suatu saat, Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dalam acara Islami selepas shubuh. Pemirsa distudio mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno bagaimana mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Pada saat itulah meledak tangis beliau, begitu pula dengan para tamu yang hadir di studio yang kebanyakan adalah kaum perempuan. Mereka tidak sanggup menahan haru saat mendengar Pak Suyatno bercerita:
“Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah SWT, semuanya akan luntur. Saya telah memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat, dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya, bukan hanya dengan mata. Dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit, berkorban untuk saya karena Allah SWT (dengan melahirkan anak keempat), dan itu merupakan ujian bagi saya. Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit. Setiap malam, saya bersujud dan menangis. Sayadapat ceritakan kepada Allah di atas sajadah. Dan saya yakin, hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya….”

“Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, paling sering beramar ma’ruf nahi munkar, dan paling gemarmenjalin hubungan silaturahmi.” (Muhammad SAW).

Tangan Ibu

Ketika ibu saya berkunjung, Ia mengajak saya untukBerbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuahGaun yang baru.
Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain. Dan saya bukanlah orang yang sabar. Walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun Wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya.
Seiring Hari yang berlalu, Saya mulai lelah Dan ibu saya mulai frustasi.Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, Ibu Saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri Dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali diBagian tepi lehernya. Dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian,
Saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan olehpenyakit radang sendi. Dan oleh sebab itu dia tidak dapat Melakukannya. Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.
Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari.
Setelah saya Mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke Kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir. Tetapi Kejadian tersebut terukir Dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut. Terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya. Dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk Saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.
Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu Saya, mengambil tangannya, menciumnya … Dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini.
Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah Membuat saya dapat melihat dengan Mata baru. Betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuhpengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.
Dunia ini memiliki Banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu Agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu…With Love to All Mother
thanks to whom sents this message

Jika Manusia Bertanya

dedicated to my friend, ita

Manusia BertanyaKenapa aku diuji ?
Qur’an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?(Al-Ankabuut:2)
Manusia BertanyaKenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur’an Menjawab : boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(Al-Baqarah : 216)
Manusia BertanyaKenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur’an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(Al-Baqarah : 286)
Manusia BertanyaBolehkah aku berputus asa ?
Qur’an Menjawab : ..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.(Yusuf : 87)
Manusia BertanyaBagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur’an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.(Ali Imraan : 200)
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.(Al-Baqarah : 45)
Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur’an Menjawab :..Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal..(At-Taubah : 129)
Manusia BertanyaApa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur’an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..(At-Taubah : 111)